For You, Mr. Panda
This is a short story about me & Mr. Panda ^o^
Happy reading!!
Happy reading!!
Aku
ingin mengenalkan seseorang kepada kalian. Seseorang yang mengisi hari-hariku
dua tahun ini. Dia laki-laki, yang berada jauh dari tempat tinggalku. Walaupun
begitu, aku masih merasakan keberadaannya setiap hari melalui chat, selama dia
menghubungiku. Aku tak memberitahumu nama aslinya, tapi aku memberinya satu
gelar, Panda. Sebenarnya, gelar awalnya adalah Turtle, tapi ku pikir Panda
lebih cocok mengingat dia yang semakin hari membuatku gemas, ngeselin juga sih.
Apa yang kalian
pikirkan saat mendengar kata Panda? Imut kah? Lucu kah? Haha sayangnya dia
tidak seperti itu. Benar adanya kalau dia berisi, dan dia jauh lebih tinggi
dariku. Ralat, mungkin akunya saja yang terlalu imut, uhuk. Dia adalah
spesies panda yang pemalu, cuek, sering gak peka, ngeselin, tapi bikin kangen,
ehe. Dia tidak terlalu suka tempat yang ramai karena akan membuatnya merasa
sesak, pusing, lemah, letih, lesu. Lah jadi anemia? Tapi, dia akan beradaptasi
dengan baik. Nice! Kami mempunyai makanan kesukaan yang sama, yaitu nasi goreng
dan mie ayam, dan pasti kalian juga suka bukan? Hal lain yang dia suka dan
semua cowok di dunia adalah main game dan ngedit. Entahlah, aku malas membahas
tentang game yang dimainkannya karena aku gak begitu mengerti. Dan kau tahu?
Dia menjadikan namaku sebagai nickname di akun game-nya. Aku tak
tahu maksudnya untuk apa. Tapi aku senang, mungkin saja namaku membawa hoki.
Dia
suka travelling tapi lebih sering di rumah, nah loh gimana. Ada moment
waktu dia pergi muncak bersama teman-temannya aku meminta untuk dibuatkan fs.
Seneng dong pas tau sudah dibikinin. Dan ini isi chatnya.
“Mau liat dong fotonya.” Aku sudah antusias.
“Nih.” Sett.. Dikirimnya lah foto tadi.
“Loh kok namaku salah?”
“Hah masa sih?”
“Iya ini ketinggalan L nya!,” aku cemberut.
“Weh maaf lupa.”
“Yaudah lah.”
Kalo
kalian kesel gak? Tapi ya gapapa lah toh udah dibuatin.
Pertemuan
pertama kami tidak seperti drama-drama yang ada di TV, seperti bertemu di jalan
dan gak sengaja nabrak lalu jatuh cinta pada pandangan pertama. Nggak!
Sebaiknya buang jauh-jauh imajinasi mainstream itu. Pertemuan kami awalnya hanya
sebatas teman chat di sebuah aplikasi yang memuat banyak stiker ucul, LINE. Gak
ada yang spesial. Hanya pertemuan yang tidak disengaja di grup chat.
Aku masih ingat
itu terjadi pada bulan April tahun 2017, dimana aku lagi sibuk-sibuknya dengan
rentetan ujian masa SMA. Mulai sejak itu kami berkenalan, dan terus
chatting-an. Sampai pada akhirnya, aku memutuskan untuk mencari couple
untuk character Roleplay yang aku mainkan. Tidak perlu tertawa, saat itu
memang masih musim dengan RP, dan RP yang aku mainkan saat itu adalah RP anime.
Dulu aku belum mengenal dunia anime dengan jauh. Tapi, semenjak itu aku jadi
mulai mencari karakter-karakter yang bagus di beberapa anime dan mulai menambah
koleksi anime di laptopku.
Kami
resmi jadian pada 8 April 2017 dan dia sebagai partner RP-ku. Okay, that’s my
first!! Saat itu bertepatan dengan hari pertama aku menjalani Ujian Nasional. Tak
banyak moment spesial karena memang aku lebih fokus ke ujianku dan penentuan perguruan
tinggi mana yang akan ku ambil.
Beberapa
bulan berlalu, dan kami semakin dekat. Aku mulai memahaminya dan mengetahui
aktivitas hariannya, tentunya tak lepas dari chat. Pada bulan Oktober, tepatnya
pada tanggal 29, Ayah mendadak mengajak pergi jalan-jalan ke luar kota. Saat
aku tahu ke kota mana kami akan berangkat, aku mendadak excited karena
aku tahu itu adalah kota tempat kediaman Panda. Tidak terlalu jauh jarak antara
kota ku ke kota si Panda, hanya membutuhkan 4 jam. Eh? Apa menurut kalian itu
lama? Kami pergi pada pagi hari dan sampai disana pada siang hari. Saat di
perjalanan aku terus memikirkan apa yang harus ku lakukan saat bertemu
dengannya nanti. Aku mulai mengumpulkan bahan pembicaraan dan mencoba
menenangkan diri agar tidak gugup.
Sore
harinya, aku bersama Ayah, Ibu, dan juga kedua adikku pergi ke taman kota, yang
mana ada maskot khas kota itu, Bakantan. Buru-buru aku menchat Panda untuk
memberitahukan posisiku sekarang dan bertanya apakah dia bisa datang atau
tidak. Syukurlah, dia bisa datang menemuiku meskipun aku tahu dia sibuk dengan
event yang akan diselenggarakannya nanti.
Sedikit
ku rapikan bajuku agar terlihat baik dan menchatnya lagi.
“Udah sampai? Dimana?”
“Bentar ini lagi markir motor di
parkiran depan.”
“Ohh oke, aku dekat tugu.” Setelah membaca chatku, Panda langsung menghampiriku.
Dari
jauh aku perhatikan dia berjalan mendekat. Dia memakai jaket berwarna hitam
dengan sedikit garis kuning dan celana panjang abu-abu. Dan tak luput dari
perhatianku adalah sebuah name tag yang tergantung di jaketnya. Karena sempat
terjadi keheningan, aku mencoba memulai percakapan.
“Panitia?”
“Iya.” Aku bisa melihat wajahnya
yang gugup. Ternyata bukan aku saja yang sedang menahan gugup.
“Apa kabar?” Bodohnya aku malah
menanyakan hal yang tidak perlu.
“Hmm baik.”
“Gak kaget kan liat yang aslinya?”
“Hehe nggak kok, biasa aja.” Kali
aja kan dia bilang, “Kok lebih cantik di foto?”
Ada
satu hal yang baru aku ketahui, ternyata dia lebih pemalu dari yang aku kira.
Gemes gak sih? Tak banyak yang kami bicarakan, mungkin karena itu momen pertama
kali bertemu. Aku maklumi itu. Pada akhirnya aku menyesal karena tidak bicara
banyak saat itu. Hanya satu jam untuk sebuah pertemuan yang aku nanti-nantikan
selama beberapa bulan. Ayah mengajakku pulang lebih cepat karena tidak ingin
sampai larut malam dan aku tiba-tiba mendapat chat bahwa salah satu dosen
mempercepat ujiannya. Ughh masih pengen lama-lama tau.
********
I’ll wait forever here
I’ll wait for you until it ends
I’ll walk with you someday
# Eddy Kim – When Night Falls #
Hari-hari
kami lalui seperti biasa. Tak lupa, kami selalu mengirimkan ucapan selamat pagi
dan juga selamat tidur. Hal kecil memang, namun itu bisa jadi sangat berarti
bagi pasangan yang memiliki hubungan jarak jauh. Awalnya kami hanya berkirim pesan,
namun setelah itu kami mulai mencoba video call. Hanya sebentar, tak
lama, karena harus menyesuaikan jadwal masing-masing.
Siapa yang
mengira bahwa hubungan kami bisa bertahan lama? Kami berdua pun semakin dekat
dan lebih serius. Namun, setahun berlalu mulai timbul masalah. Dia mulai jarang
mengirimiku pesan. Oke, mungkin dia sibuk. Semakin hari aku semakin tidak bisa
mengontrol rasa rindu. Ahh, rasanya ada yang kurang saat melihat layar handphone
tak ada notif masuk darinya. Sesuatu yang sudah membuatmu nyaman akan terasa
menyesakkan ketika tidak ada. Dan itu membuatku gelisah.
Siapa bilang
selama itu kami tidak ada masalah? Tentu saja dalam tiap hubungan pasti
menemukan kejenuhan. Itu lah yang aku pikirkan saat dia mulai jarang
mengirimiku pesan. Beberapa kali terjadi pertengkaran kecil, dan itu banyak
terjadi karena tingkat komunikasi yang berkurang dan aku yang rindu berlebihan.
Rindu itu menyesakkan kau tahu?
Apa aku terlalu
egois karena selalu menyuruhnya untuk mengabariku? Aku ingin menjadi
prioritasnya, aku ingin tahu selalu kabarnya, apa yang dia lakukan seharian
tadi, apa dia ada masalah, dan berbagai macam hal lainnya. Namun, setelah
dipikir kembali, akan berlebihan apabila hampir setiap waktu dia memberi kabar.
Seperti laporan saja. Aku tidak akan memintanya untuk standby ataupun online
setiap saat karena setiap orang memiliki kesibukan masing-masing. Terlebih
lagi, saat sedang dalam kondisi tidak baik, seseorang akan memerlukan me
time yang mana ia tidak mau diganggu untuk sementara. Yang pasti, aku hanya
ingin dia menyisihkan waktu barang 5 menit untukku. Aku kesal karena dia jarang
menceritakan masalahnya kepadaku. Aku berniat ingin membantunya dan meringankan
setidaknya sedikit beban pikirannya. Namun itu tidak bekerja karena pada
akhirnya dia akan menutup diri dan berkata, “Gapapa kok.” Dan aku cemburu saat
dia menceritakan masalah kepada temannya sedangkan kepadaku tidak. Apa dia
tidak percaya denganku?
Hey, jangan
sedih
Lihatlah, aku
disini
Tak perlu
mencari orang lain karena aku ada untukmu
Aku khawatir,
aku ingin kau membagi kisahmu
Berbagi masalah
denganku dan menyelesaikannya bersama
Aku mengerti,
tak mudah bagimu untuk bercerita pada orang lain
Tapi, aku bukan
orang lain bagimu kan?
Aku bagian dari
hidupmu bukan?
Ku harap itu
bukan imajinasiku saja
@Glorya_Vie
Ketahuilah,
dibalik sebuah hubungan yang awet ada ego yang harus diturunkan, ada orang yang
harus duluan meminta maaf dan memaafkan. Dan itu harus ada. Hubungan kecil saja
perlu untuk membuang jauh-jauh rasa egois akan tidak berpisah, apalagi kalau
hubungan bernegara, kan? Apabila sama-sama bersikeras, aku tak bisa menjamin
kalian akan menemukan titik terang. Kuncinya ialah mulailah berbicara dengan
baik tanpa ada emosi, dari hati ke hati dan jangan sampai penyesalan menghantui
pikiranmu nantinya. Jangan malu untuk memulai pembicaraan duluan, minta maaf
saja meskipun yakin bahwa kau tidak salah.
Bertambahnya
hari bertambah pula rasaku. Aku semakin ingin bertemu. Tak apa walaupun itu
setahun sekali agar rinduku terobati. Benar kata Dilan, rindu itu berat, kau
takkan kuat. Akan tetapi, aku ingin mematahkan statement itu dengan
bersikap baik-baik saja selama menunggu pertemuan itu.
Malam
hari Panda menghubungiku via telepon, dia ingin cerita. Aku senang karena dia
sudah mulai terbuka untuk berbagi cerita denganku, aku hargai itu. Dia bilang,
dia akan main ke kotaku pekan nanti. Aku tak percaya itu dan berpikir dia hanya
main-main saja, tapi ternyata itu benar. Panda diajak oleh Ayahnya untuk
mengikuti event Pecinta Sepeda Tua (Onthel). Tentu saja aku senang, setelah
sekian lama baru bisa bertemu. Walaupun aku sering menyuruhnya untuk
mengirimkan foto wajahnya, aku masih penasaran apa ada yang berubah dari
dirinya. Apa mungkin dia bertambah gendut? Atau bertambah tinggi? Ohh ayolah,
tinggiku saja sudah sebahunya, bagaimana jadinya kalau dia bertambah tinggi?
Bisa jadi orang akan mengira aku adiknya saat berjalan bersamaan.
Tiga
minggu, seminggu, hingga tersisa satu hari sebelum aku bertemu dengannya.
“Gimana? Jadi?”
“Jadi kok besok.”
“Jam berapa katanya?”
“Hmm sekitar jam 10-an.”
“Udah siapin barang-barangnya?”
“Udaahh tenang aja, besok tinggal
berangkat. Insya Allah gaada yang ketinggalan.”
“Oiya satu lagi, jangan lupa bawa
hatinya, kali aja nanti ketinggalan.” Sontak
dia tertawa membaca chatku.
“Beb?” tanyaku.
“Kenapa?”
“Kok aku gugup yah.”
“Lah ngapain gugup.”
“Gak tau. Yasudah, mending
istirahat ngumpulin tenaga buat besok.”
“Iyaa iya, sampai ketemu nanti.
Selamat tidur.”
“Selamat tidur juga.” Ku letakkan handphone dan menarik selimut, tidur.
Keesokan
paginya, aku bangun lebih cepat. Aku merasa cuaca lebih cerah hari ini
dibandingkan kemarin dan cukup mendukung suasana hatiku. Aku tidak merasakan
gugup ataupun bingung, hanya cenderung lebih bersemangat. Pukul 07.00 aku pergi
ke kos teman karena sebelumnya aku sudah berjanji untuk menemaninya mengambil
formulir kegiatan di komisariat. Sampainya disana, teman-teman yang lain sudah
ada. Ada apa? Ternyata hari itu mereka ingin merayakan ulang tahun Ellisa.
Setelah
acara selesai, aku sempat bertanya kepada Ellisa bagaimana saat pertama kali
bertemu dengan keluarga Ahda, si ehem-nya. Ellisa bilang biasa saja tak perlu
gugup, bicaralah seperti biasa. Aku menanyakan itu karena Panda tidak datang
sendirian, melainkan dengan Ayah serta kakak perempuannya. Aku takut akan
membuat kesalahan dan membuat mereka tidak menyukaiku. Aku berpikir terlalu jauh. Aku melihat story Whatssapp-nya, dia sudah
berangkat. Tapi kenapa tidak memberitahuku lebih dulu? Aku lihat lagi
instagramnya, dan benar itu setengah jam yang lalu.
“Sudah berangkat kah?”, tanyaku.
“Sudah berangkat beb”.
“Udah sampai mana?”. Dia pun mengirimkan lokasi terbaru. Ohh masih jauh, pikirku.
“Chat ya kalo udah sampai.”
Aku
hendak pulang, namun temanku yang lain melarangku untuk pulang, dia bilang,
“Sudah, disini saja sambil menunggu dia datang”. Namun, aku bersikeras untuk
pulang, “Maaf, tapi aku mau pulang saja, sekalian makan di rumah”.
Aku
pulang. Baru saja aku sampai di kamar hujan turun dengan deras. Dua jam
kemudian, dia mengirimkan lokasi terbaru.
“Di korem? Apa masih di jalan?”
“Iya, tapi belum sampai di tempat
acaranya.”
“Terus?”
“Ini udah sampe. Tempat acaranya
dekat bundaran besar.”
“Ohh deket aja dari kampusku. Aku
udah di rumah ini, tapi kalau mau ketemu bisa aja”. Fyi, jarak dari kampus ke rumahku lebih jauh.
“Gapapa emangnya?”
“Ya gapapa, paling nanti aku minta
temenin sama temen tapi kesananya.” Aku
malu sendiri.
“Terus? Entar pulangnya kesorean
gapapa?”
“Kamu bisa apa nggak?”
“Bisa kok.”
“Oke kalau jadi aku mau siap-siap
otw.”
“Iya. Ini lagi jalan mau liat-liat
dulu bareng kakak.”
Aku
langsung mengambil setelan hitam pink. Blackpink in your area~ uhuk. Setelah
bersiap aku langsung tancap gas ke kos temanku tadi untuk menjemputnya. Buat
kalian kalau dirasa bakalan gugup mending ajak temen biar gak kerasa krik-krik
nantinya. Awalnya aku dan temanku Aina sempat bingung mencari lokasi si Panda
berada. Alhamdulillah, akhirnya ketemu. Benar seperti dugaanku, di pertemuan
kali ini pun dia masih malu dan tak banyak bicara. Kami sampai ditertawakan
Aina, “Udah jadian lama kok masih malu-malu?”
Kami
hanya berbicang ringan. Dan pada akhirnya, Aina lah yang jadi photographer kami
berdua. Oke, ada juga untungnya mengajak teman. Sejam berlalu, aku pulang
karena hanya dibatasi sampai jam lima sore dan takut sampai di rumah nanti
maghrib.
“Udah sampai di rumah?”
“Baru aja nih.”
“Gimana? Dimarahin gak?”. Rupanya dia juga khawatir.
“Nggak. Udah makan belum?”
“Ini lagi nyari sama kakak. Btw,
bioskop bukanya jam berapa?” Lah,
ini mau ngajakin?
“Hmm lupa cek aja deh di websitenya.
Mau nonton emang?”
“Iya, bisa gak?”
“Bisa,nonton apa?”
“Film horror mau?”
“Siap-siap aja kamu ku tabok kalo
aku kaget.”
“Lah kalo yang ini gimana?”
“Yang tadi aja deh.”
“Beneran? Emang berani?”
“Sebenernya aku pengen jalan-jalan.
Kan sayang kalo waktunya habis Cuma buat nonton.”
“Jalan-jalan kemana?”
“Yaa kemana aja sambil nyari makan.
Kamu jam berapa pulangnya?”
“Sekitar jam 2 atau 3 beb. Mau
dikenalin ke Ayah?”
“Hmm mau, tapi aku malu.”
“Lah hahaha...”
“Jam 6?”
“Bisa. Tapi nanti naik sepeda.”
“Lah motorku gimana?”
“Ya kan motornya bisa ditaro di
dalem.”
“Aku naik apa dong? Gaada sepeda.”
“Ya dibonceng lah.” Aku tersentak. Dibonceng? Berdua? What?
“Okelah, tapi nanti tungguin di
depan. Ntar aku kelewat lagi.”
“Iya iyaa.”
Aku selalu salah tingkah
Saat didekatmu, kamu tetap yang terindah
Jangan pernah berubah
Berdua meraih mimpi kita
# JAZ – Berdua Bersama#
********
What should I do? Just looking at you
makes my heart flutters everyday
You don't know how I feel yet
I think of you
without getting caught all day
makes my heart flutters everyday
You don't know how I feel yet
I think of you
without getting caught all day
# Gfriend - Wanna Be #
Hari ini, akan
lebih lama dibanding kemarin yah setidaknya setengah hari. Aku bangun lebih
pagi, namun karena membereskan rumah aku jadi agak terlambat.
“Beb nih jalan.”
“What? Dimana?”
“Baru mau siap-siap sih. Di seberang
tempat yang kemaren.”
“Gimana dong?”
“Gak tau juga kalo bakalan jam
segini.”
“Yaudah kalo jalan nanti send loc
aja. Sekitar 20 menit otw.”
“Oke hati-hati.”
Tepat 20 menit . . . .
“Dimana? Ini udah pada ngumpul
siap-siap. Ingat aja kan tempatnya?”
“Ingat.”
Itu
adalah kali pertama aku ke car free day. Bukannya aku katrok, aku hanya
malas karena jarak dari rumah itu lumayan jauh dan teman pun jauh. Jalanan
dipadati orang yang sedang sekedar jogging dan juga ramai dengan jajanan. Belum
apa-apa sudah mau makan. Tepat didepan gedung dinas itu ku parkirkan motor lalu
masuk ke dalam. Ada banyak stand-stand dan tenda sponsor di halaman depannya.
“Sebentar, pintu masuknya dimana?”
Aku sampai melihat papan tulisan di depan gerbang tadi. Tiba-tiba Panda
menelpon..
“Halo? Ini udah di pintu masuk.”
“Err.. Kayaknya aku salah masuk
deh.”
“Sebelah mana?”
“Kiri.”
“Yaudah sini masuk ke tengah, aku
pake baju cokelat.”
“Hah? Ada banyaakk. Aku dekat stan
minuman ini.”
“Tunggu disitu.”
Aku
gelisah karena aku kurang suka berada di tengah keramaian apalagi sendiri
seperti sekarang. Ku amati sekitar, keren. Semuanya memakai kostum ala-ala
jaman doeloe dan sepeda onthelnya lucu-lucu. Terlepas dari itu, aku melihat
seseorang berjalan ke arahku dengan langkah panjang. Itu Panda! Aku ikut
menghampirinya. Aku pikir dia memakai baju biasa, ternyata dia juga memakai
baju ala tentara zaman dulu. Dia melepas topi dan tersenyum ke arahku. Oh God
aku semakin gugup!
“Lewat mana tadi hmm?”
“Lewat sana hehe,” kataku menunjuk
pintu keluar.
“Yaudah ayo sepedanya disana.”
Aku
mengikutinya dari belakang. Ku percepat langkahku agar bisa sejajar dengannya.
Pelan-pelan napa ish! Aku baru sadar ternyata dia bertambah tinggi dan lebih
berisi. Itu terbukti melihat tinggiku yang tidak sampai sebahunya dan pipinya
yang semakin bulat. Ada banyak sepeda berbaris di pinggir halaman yang siap
untuk dinaiki. Tepat di depanku ada Ayah dan kakak perempuannya. Aku
benar-benar gugup sekarang, kakiku rasanya membatu dan lidahku tercekat. Apa
yang harus kulakukan? Segala hal yang sudah aku persiapkan dari rumah tiba-tiba
hilang seakan terbawa angin.
Aku
mencoba tersenyum untuk bersikap ramah karena tak sanggup menyapa, apalagi
sampai menjabat tangan. Aku berdiri di samping sepedanya sambil mengamati
sekeliling. Tak sedikit kulihat orang tua yang berpartisipasi. Patut diacungi
jempol, mereka ada yang datang jauh-jauh dari luar pulau untuk mengikuti
kegiatan tahunan ini. Kekagumanku bertambah saat melihat ada tiga orang
kakek-kakek yang duduk di bahu jalan menunggu keberangkatan. Dengan usia
seperti itu, mereka masih bersemangat. Aku saja pasti sudah capek kalau disuruh
bersepeda keliling kota. Aku senang karena mereka ramah-ramah.
“Duduk dulu nduk nanti capek
kelamaan berdiri.”
“Enggeh pak gapapa makasih.”
“Beb nih pegang.”
“Apa ini?”
“Sertifikat peserta.”
“Kok ada 2?”
“Buat kamu.”
“Kan aku gak ikut.”
“Ya kan nanti dibonceng.”
“Beneran? Aku kira cuma bercanda.”
“Nggak lah. Motornya parkir dimana?”
“Aku parkir didepan.”
“Pindahin ke dalam aja nanti kan
ditinggal.”
“Gapapa emang?”
“Udahh.. ayo”
Aku
mengantar Panda sampai di depan parkiran.
“Mana kuncinya?”.
“Hah?”. Aku bingung, untuk apa?
Ternyata dia yang ingin membawa masuk motorku dan menyuruhku duduk
dibelakangnya. Belum apa-apa aku sudah tegang.
Kami
kembali ke tempat tadi. Namun, aku tidak mendapati dimana Ayahnya dan kak Raby.
Kami pun ke tengah lapangan. Dari sebelah kiri aku mendengar ada yang memanggil
nama Panda. Kami mendekat ke sumber suara yang tak lain adalah kakaknya.
“Mau makan bakso?” tawar Ayahnya.
“Mau gak?” tanya Panda.
“Terserah deh.” Sebenarnya aku tidak
mau, karena mungkin waktunya tidak cukup.
“Kalau mau makan, buruan, bentar
lagi berangkat,” Kak Raby menambahkan.
Saat
hendak makan, tiba-tiba ada bapak-bapak menyapa Panda. “Ecieee siapa nih da?”
Panda hanya tersenyum dan melanjutkan makannya lagi. Aku tidak bisa cepat makan
karena masih sangat panas. Dan benar saja, orang-orang mulai berkumpul bersiap
untuk berangkat.
“Loh udahan?”
“Hmm iya aku kenyang.” Maaf, aku
bohong.
Dan
lagi, ini pertama kalinya aku dibonceng seseorang. Dulu, aku sering bermain
sepeda, tapi aku mengendarainya sendiri. Sekarang, aku bersama dia. Awalnya aku
bingung bagaimana menaikinya karena sepeda itu cukup tinggi dan aku takut
bajuku akan tersangkut. Wait, pegangannya dimana? Lantas ku pegang bahu Panda
untuk naik. Tanganku gemetar. Aku tersentak saat dia mulai mengayuh sepeda dan
refleks memegang bajunya dari belakang. Andaikan saja ada spion, aku ingin
melihat wajahnya.
Kami
mulai mengelilingi bundaran hingga sampai di taman kota. Hanya sedikit kata
yang keluar sepanjang perjalanan. Aku terlalu sibuk mengontrol detak jantung
dan memegang erat rokku sambil memegang bajunya. Sesekali aku membuat video dan
menguploadnya di instagram. Untunglah hari ini tidak panas, kalau tidak bisa
terbakar aku disini.
Kami
singgah di taman depan tugu Soekarno. Aku menahan lengannya saat ingin
menyeberang. Kakiku keram, padahal bukan aku yang mengayuh sepeda. Kami
langsung menghampiri kakaknya karena tadi kami agak terlambat saat di
perjalanan. Sampainya disana kami sempat mengambil beberapa gambar.
Kami kembali
setelah 30 menit kemudian. Matahari mulai terasa menyengat dan kulihat baju
Panda yang sedikit basah.
“Capek kah?”
“Nggak kok.”
“Aku berat ya?”
“Nggak.”
“Lebih panas disini atau ditempat
kamu?”
“Hmm gimana yah, gak tau soalnya kan
tadi malem abis hujan.”
“Oiya yah. Hmm liat kesini deh.”
“Wah divideo ternyata.”
Panda
membawa sepedanya menuju truk tempat penyimpanan. Kami pergi ke stan untuk
menukarkan kupon makanan dan minuman.
“Cari yang dingin yok.”
“Dimana? Di depan?”
“Iya.”
Kami
kembali ke jalanan dan ternyata sudah banyak warung yang tutup. Kami terus
berjalan hingga mendapat penjual jeruk peras. Aku ditraktir toh? Halaman yang
tadi sepi sekarang ramai dengan orang-orang yang berdatangan dan beristirahat
setelah berkeliling kota tadi. Tidak hanya makanan dan minuman, disana juga ada
yang menjual aksesoris dan alat-alat untuk sepeda onthel. Harganya tak
main-main, namun itu sesuai dengan kualitasnya. Kami pun mencari tempat
berteduh.
“Di bawah pohon tuh,” tunjukku.
Sambil
melihat Panda menghabiskan minumannya, aku meminjam handphone-nya untuk
memotret. Andai kau dapat melihat tingkahnya saat itu, sangat lucu. Dia
menyedot habis minuman yang ada di tangan hingga terdengar suara sruputnya.
“Uuu... kasian, kamu haus atau
doyan?”
Aku
sempat berkirim pesan dengan temanku saat itu. Dia berkuliah di Jawa, jadi kami
hanya berkabar via whatsapp.
“Mau liat orangnya?” tanyaku.
“Mau.” Aku langsung menekan tombol
video call.
“Haaiii Pandi” sapa Ima. Anggap saja
begitu karena pada kenyataannya dia memang suka mengganti nama asli Panda.
Panda malu-malu saat ku sodorkan handphone ke depan wajahnya.
“Jaga dia baik-baik yaa, jangan
bikin dia nangis haha duh apalagi yah itu aja deh.”
“Kamu denger gak?” tanyaku ke Panda.
“Iyaa insya Allah,” jawabnya.
Sembari
menunggu acara selesai, Panda mengajakku untuk makan. Sepertinya dia mulai
kesal karena aku terus mengatakan ‘Terserah’. Ya karena aku juga bingung ingin
makan apa. Lagi, dia selesai lebih dulu dibandingkan aku. Di piringku masih ada
separuh dan piringnya sudah habis. Tak apa, ternyata ada untungnya juga makan
lambat karena aku ingin berlama-lama disampingnya. Meskipun lebih banyak diam.
Tak
terasa matahari sudah berada tepat di atas ubun-ubun. Sebagian orang mulai
berkemas dan memasukkan sepeda-sepeda serta barang-barang ke dalam bus dan
truk. Tenda-tenda yang terpasang tadi pun sebagian sudah diturunkan. Aku
mengantar Panda ke depan bus dan bersalaman dengan Ayahnya.
“Hati-hati ya,” ucapku.
“Iya, kamu juga hati-hati pulangnya
dan salam untuk keluarga.”
“Aku juga nitip salam yah.”
“Hmm, aku berangkat dulu.
Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.” Aku membalasnya
dengan anggukan kepala dan melambaikan tangan.
Aku yang
bersender di tiang tenda dapat melihat dengan jelas dia menaiki bus hingga duduk
di tempatnya. Kakaknya yang berada di depan jendela memandangiku dan tersenyum.
Tentu saja aku balik senyum. Tiba-tiba Panda mengirim pesan.
“Kok masih disitu belum pulang?”
“Nungguin.”
“Gak dicariin?”
“Gak, masih panas juga”. “Hmm aku
masih pengen lama-lama.”
“Jangan kangen haha.Gimana rasanya
tadi waktu naik sepeda?”
“Sukaaa. Aku jadi mau nangis.”
“Eh jangan nangis entar diliatin
orang loh.”
“Tutup pake helm.”
“Entar kalo kangen aku usahain video
call deh. Biar ada orang tua atau kakak.”
“Nanti kesini lagi dong kalo pas
liburan.”
“Iya iyaa diusahain.”
“Yaudah hati-hati ya aku juga mau
pulang.”
“Iya hati-hati juga di jalan.”
Aku
diam. Awalnya hanya keluar setetes air mata, namun lama-lama dadaku terasa
sesak. Aku menangis di tengah keramaian dengan mulut membisu. Sampai di
sepanjang perjalanan pun masih begitu hingga akhirnya tak ku lihat lagi busnya.
Baru sebentar kok sudah rindu.
Dia memang tak setampan
pangeran Disney pun tidak segombal Dilan, dia juga tidak sereceh Raditya Dika.
Tapi dia, Pandaku. Dia tahu apa yang membuatku senang, dan itu dengan caranya
sendiri. Jaga dirimu baik-baik ya karena aku tak bisa mengawasimu dari dekat.
Bagiku, jarak hanya soal angka. I’ll always here, beside you.
********
By the way, aku
nulis Panda ini sempat beberapa kali break karena moodnya ilang. Ya gitu kalo
lagi kesel sama tuh orang jadinya males nulis, jadi perang batin deh. Tapi yah
akhirnya selesai juga.
Terima kasih
buat yang udah baca. Lvoe ya!!
Tuhan tolong jaga dirinya disana
Aku disini kan menunggu hingga diriku dan dirinya
Indah pada waktunya
# Rizky Febian – Indah pada Waktunya #
Komentar
Posting Komentar